Warung Soto Ayam hampir ada dari pelosok desa sampai di tengah kota. Franchise soto juga telah banyak bermunculan. Seperti halnya bisnis makanan lain, RASA selalu menjadi andalan utama bagi pembeli untuk memilih di warung mana akan makan soto. Karena rasa yang utama, penjual soto pun selalu menjawab pertanyaan apa kelebihan soto di warungnya jika dibandingkan dengan warung lain dengan berbagai jawaban yang selalu terkait dengan rasa, misalnya : rasa soto ayam disini lebih khas lamongan, koya di warung saya jauh lebih enak, kuahnya lebih sedap, dan jawaban serupa lainnya …

Kali ini saya iseng dan berandai – andai punya warung soto ayam, dan ketika ditanya oleh orang apa kelebihan makan soto ayam di warung saya? Saya akan jawab : “Sebuah Pengalaman Makan Soto Ayam.” Saya tidak akan menambahkan embel – embel tentang rasa karena saya sudah yakin soto ayam buatan ibu saya sangat enak.

Makan soto aja kok sebuah pengalaman … Hehehe namanya juga iseng …

Soto Ayam merupakan salah satu masakan favorit saya, dari kecil masakan ini memang familier dengan lidah saya, Ibu yang jagoan dalam hal masak – memasak selalu menyuguhkan menu soto ayam pada setiap acara keluarga atau kebaktian / pengajian. Alasannya cukup simple soto paling ‘IRIT’, satu ekor ayam bisa buat menjamu 30 orang tamu, asal rasanya enak ditambah mie bihun dan kentang sudah terlihat banyak lauknya… Karena irit berarti jual soto ayam pasti untungnya gedhe hehehehe …

Mari kita mulai pengalaman makan soto ayam buatan ibu saya hehehe

 

Kali ini bayangkan saja warung saya sudah berdiri, buka, dan ramai … Anda datang ke warung saya, karena masih pertama kali datang Anda sedikit bingung ketika para pelanggan warung soto saya, memesan dengan bilang : 24, 26, 30, 32 meja 8. Nah sementara Anda melihat meja 8 hanya berkapasitas 4 orang saja dan disana memang sedang duduk 4 orang menunggu.

Ngga mungkin khan pesan 24 dan 26 porsi ? Disinilah experience makan soto Anda dimulai.

Di warung soto saya ini, angka hitungan 24, 26, 30, 32 tadi adalah jumlah suapan yang dilakukan oleh masing2 pembeli , yang tentunya berbeda. Karena di meja 8 tadi adalah pelanggan yang sudah pernah ke warung soto saya maka mereka sudah tahu dalam berapa suapan soto mereka akan habis. Ada yang 24 suapan, 26 suapan dan seterusnya.

Lalu kenapa mereka mesti pesan dengan cara itu? Kenapa mereka perduli dengan jumlah suapan?

Exeperice kedua berlanjut : Warung soto ayam saya memberikan garansi irisan ayam akan ada dalam setiap suapan pembeli. Artinya jika dia makan soto itu habis dalam 20 suapan maka kami akan berikan 20 irisan ayam, sehingga setiap suapan selalu diikuti dengan seiris daging ayam. Percaya ngga percaya setelah tahu hal ini orang yang semula tidak menghitung berapa suapan dia menghabiskan semangkok soto, akan jadi berhitung. Nah Anda khan pelanggan baru bagaimana karena belum tahu jumlah suapan? Tentunya kita punya standar jumlah suapan sambil memberitahukan pada pembeli “Silahkan bapak / ibu menikmati setiap suapan dengan seiris daging, jika nanti irisan daging sudah habis tapi bapak / ibu masih ada suapan berikutnya, kami akan tambahkan irisan daging nya“

Hmm …. Setelah terdiam melihat aktifitas tadi akhirnya Anda memesan soto di warung saya, Tanpa saya perintahkan : 80% kemungkinan Anda menghitung berapa jumlah suapan yang Anda lakukan sembari menikmati rasa enak soto ayam khas masakan ibu saya …. Hehehe experience ketiga sudah Anda lewati.

Setelah makan, bayar dan pulang, 50% kemungkinan Anda menceritakan pada teman kantor atau keluarga tentang 3 pengalaman Anda pertama kali ke warung soto saya ….

Masih ada satu experience lagi tersisa, kali ini Anda datang kembali ke warung soto saya dengan beberapa orang teman / keluarga … Ketika mereka bingung seperti Anda pertama datang tadi, Anda dengan bangga bilang 22 seolah ingin menunjukkan pada teman2 yang diajak, bahwa Anda telah tahu jumlah suapan Anda hehehehe

Begitu seterusnya berlanjut teman bawa teman…. Rame deh warung soto ayam saya hehehe

Ide ini muncul saat saya makan soto ayam dan ada anak kecil disebelah saya makan oreo dengan dicelupkan ke minumanya (milo), di warung ini irisan ayam di mangkok saya besar2 tapi dagingnya habis dulu sebelum nasinya habis, hmm… jika oreo bisa menciptakan experience makan biskuit, kenapa tidak dengan soto ayam hehehehe

Isn’t … that interesting ….