Sistem Akuntansi Sederhana untuk Bisnis
Seorang pebisnis tanpa latar belakang Ilmu Ekonomi akan meng-kerutkan kening ketika berhadapan dengan istilah Sistem Akuntansi. Tadi malam dalam sharing bisnis dengan Reza dan Pak Samurai saya sempat menyinggung hal yang berhubungan dengan Sistem Akuntansi untuk sebuah bisnis, khususnya bisnis kecil ber-visi besar. Seusai saya sharing dan kemudian Pak Samurai langsung request untuk bisa ditulis di blog ini. Semoga saya bisa mendeskripsikan melalui tulisan seperti halnya mendeskripsikan ketika sharing tatap muka.
Sistem akuntansi sederhana yang ingin saya share kali ini sangat simple (simple = tidak mudah tapi juga bukan hal sulit). Sistem akuntansi ini saya dapatkan ketika masih SMP dari seorang pemilik toko kelontong ‘Toko Ayun’, pemiliknya merupakan orang China. Dengan sistem ini beliau telah berhasil menjadikan toko kelontong yang dulu kecil sekarang sudah sangat besar, serta banyak aset properti. Sistem akuntansi simple ini hanya membutuhkan ketelatenan yang hingga hari ini saya sendiri terus belajar untuk menerapkannya. Hanya ada 2 hal yang harus diketahui dan dilakukan untuk bisa menggunakan Sistem akuntansi ini : Mengetahui Jumlah Profit, dan Kedisiplinan. Tertarik untuk menggunakan dalam bisnis Anda? That is really SIMPLE things …. Begini ceritanya …. hehehe
Ayah saya memiliki toko kelontong kecil di dusun yang kalau ‘kulakan’ barang dagangan mengambil dari toko Ayun, waktu itu saya heran sebagai anak SMP yang pinter matematika (red : narsis), Ko Ayun (sebut saja namanya begitu) nulis angka penjualannya aneh ya? Kok nggak sama dengan yang ditulis ayah saya. Ketika ayah saya membeli gula senilai Rp. 100.000 , di kertas Ko Ayun cuma ditulis Rp 5.000, trus ketika beli barang lain senilai Rp 20.000, di kertas cuma ditulis Rp 2000 begitu seterusnya pada item lain. Kertas catatan ini bukan merupakan nota penjualan tetapi catatan tersendiri buat dia. Akhirnya saya minta ayah untuk tanya karena saya nggak berani tanya sendiri waktu itu. Setelah belanja usai dan barang sudah di cross check, ayah saya bertanya : “Ko kok nulisnya gitu, yang ditulis itu apanya?”. Hmm, Ko’ Ayun terdiam sejenak, sambil melihat wajah kami berdua ‘mlongo’ dan besar rasa ingin tahunya, akhirnya pertanyaan itu dijawab dengan detail. Jawaban inilah yang saya sebut Sistem Akuntansi Simple, dan terus saya coba terapkan dalam bisnis walaupun terkadang saya masih ngga disiplin dan nakal.
Angka yang ditulis oleh Ko Ayun tadi merupakan keuntungan yang dia dapatkan dari setiap penjualan, artinya dari Rp 100.000 dia untung Rp 5000 waktu itu. Saat menutup toko malam hari dia menjumlahkan angka2 yang ditulisnya. Katakan dia dapat Rp 50.000 hari itu maka pada malam itu dia hanya mengambil Rp 50.000 dari laci uang untuk dibawa pulang. Dia menjelaskan begini, dari keuntungan hari itu, 20% untuk makan keluarga dan kebutuhan sehari – hari, 20% ditabung khusus untuk peningkatan modal atau kebutuhan mendadak, 50% ditabung untuk investasi (properti), dan 10% untuk persembahan gereja. Dia bilang kenapa harus ditulis tiap transaksi ngga rekap akhir bulan atau mungkin mingguan, karena dia bukan orang yang pinter jadi nanti pasti bingung dan rancu mana modal usaha mana keuntungan. Menulis setiap kali transaksi adalah pilhan terbaik, karena dia tahu benar berapa keuntungan toko hari itu, dan berapa yang bisa dibelanjakan untuk makan esok pagi. Dia juga menjelaskan bahwa kalau keuntungan nggak cukup untuk beli ikan maka sekeluarga akan makan dengan tempe saja, atau mungkin kecap saja sehari besok. Sebaliknya jika keuntungan hari ini banyak maka besok akan makan enak sampai 20% keuntungan itu. “Hidup harus bisa prihatin tapi juga harus bisa menikmati pada waktu yang tepat” imbuhnya. “Jadi modal saya ya tetep modal Pak, ga boleh kemakan karena toko harus tetep buka dan modal ditambah setiap kali dibutuhkan karena harga barang2 pasti naik karena inflasi” dia melanjutkan. Kok bisa ya? dalam benak saya langsung terlintas pikiran pola pikir Ko Ayun luar biasa , ini sama sekali nggak ada dalam toko kelontong ayah saya, dimana omzet adalah income.
Dengan pola pikir dasar yang berbeda dengan orang China, saat itu Ayah saya mencoba ikut2 an tapi hanya bertahan beberapa minggu, dan akhirnya kembali ke pola lama mengganggap omzet adalah income sehingga lama – kelamaan modal dasar terkikis ikut termakan. ‘Toko Danara’ singkatan dari nama saya dan 2 adik perempuan saya Nana dan Rara, akhirnya harus tutup selang beberapa tahun kemudian.
Sistem akuntansi sederhana bukan hanya tetep membawa toko Ayun buka sampai hari ini tapi juga menjadi salah satu toko terbesar di kampung halaman saya. Dengan kalkulasi sederhana bahwa pengembangan keuntungan untuk kenaikan modal toko disisihkan 20% waktu itu, saat ini telah menjadi sebesar toko-nya sekarang. Maka tentunya properti yang dulu porsinya 50% dari keuntungan, juga pasti telah berkembang.
Mungkin kita sering berdalih bahwa teori Ko Ayun hanya bisa untuk bisnis retail saja, mungkin ini juga yang dipikirkan Anda, atau beberapa alasan lain seperti : itu khan untuk bisnis simple?, susah / nggak bisa untuk diterapkan di bisnis saya? Atau alasan klasik yaitu “suku bangsa” : wajar dia orang China yang sejak turun temurun sudah diajarkan demikian, sementara saya orang pribumi yang ga ada darah dagang.
Alasan2 diatas juga terkadang menggangu saya. Tetapi, ketika saya mencoba berpikir terbalik, bukan dengan melihat bisa atau tidak sistem akuntansi ini digunakan dalam bisnis saya, tetapi justru melihat bagaimana bisnis saya bisa diesuaikan dengan sistem yang sudah terbukti ampuh ini. Bukan sistem yang menyesuaikan bisnis, tetapi bagaimana bisnis bisa diringkas sederhana dengan teori akuntansi ini. Sedangkan alasan “suku bangsa”, memang benar bisa jadi Ko Ayun secara turun – temurun telah diajarkan hal ini, sementara ayah saja mencoba meniru dan gagal, lalu apa saya harus menyerah dengan kegagalan ayah saya? Justru jika saya beralasan yang sama maka nanti anak saya pun akan sama beralasan juga, jadi apa salahnya memulainya dari bisnis saya saat ini sampai suatu saat nanti orang – orang bilang, keturunan saya sudah turun temurun dilatih tentang hal ini, seperti halnya saat itu saya bilang bahwa Ko Ayun sudah terun – temurun menggunakan cara ini.
Sistem Akuntansi sederhana ini hanya bisa berjalan dalam kedisiplinan, tanpa disipin alokasi sistem ini sama sekali tidak akan bekerja. Saya sendiri hingga saat ini terus berusaha untuk memiliki pola pikir Ko Ayun tentang sistem akuntansi ini sehingga tingkat kenakalan saya setidaknya akan berkurang secara bertahap dan semakin hari semakin bertambah kedisiplinan saya…
Sistem ini secara fungsi dasar merupakan alat pemisah antara bisnis dan pemilik, dengan sistem akuntansi sederhana ini pemilik bisnis akan mengetahui berapa gaji yang diberikan oleh bisnisnya hari ini.
Selamat mencoba dalam bisnis ….

January 14th, 2008 at 0:03
wa….. inspiring!
January 14th, 2008 at 13:38
wah… bagus sekali. Hal yang kecil dan sederhana tapi kadang tidak pernah terpikir oleh kita, padahal pengaruhnya besar sekali…
ok siip, very inspiring..
January 14th, 2008 at 13:50
Bermanfaat sekali mas…
January 15th, 2008 at 9:44
Sederhana tp fantastis..
January 16th, 2008 at 5:11
Akuntansi yang saya pelajari pas SMA dulu rupanya terlalu ruwet. Artikel ini bagus. Menginspirasi.
January 16th, 2008 at 11:11
#5 Sistem akuntansi secara lebih detail tetap akan dibutuhkan oleh sebuah bisnis, artinya pendekatan sistem akutansi sederhana ala Ko Ayun BUKAN dalam posisi untuk menggantikan sistem akuntansi yang ‘ruwet’ bagi orang yang tidak berlatar belakang ilu ekonomi.
Sistem ini hanya salah satu bagian dari Sistem Akuntansi secara keseluruhan, tapi buat pebisnis pemula yang skala bisnis belum terlalu besar, setidaknya dengan sistem ini bisa memperoleh gambaran pendapatan / profit usaha.
January 16th, 2008 at 20:05
lha kalo jasa gimana ngitungnya? kalo fotografer mungking bisa diitung dari kamera yang aku beli dan bla bla bla… dulu (sampe sekarang) aku bingung pas jadi trainer… piye Ton?
January 16th, 2008 at 22:26
#7 Untuk Jasa, pengalaman yang saya sendiri lakukan karena kebetulan juga bisnis di bidang jasa, dengan menghitung margin laba dari harga jual. Katakan margin nya adalah 60%. Maka dalam setiap transaksi kita tahu bahwa 60% dari harga jual itu yang bisa kita makan sesuai alokasi.
Sementara 40% merupakan biaya atau nilai pengurangan peralatan. Untuk Fotografer misalnya kamera harus diperhitungkan bernilai semala berapa lama, katakan 2 tahun, tinggal bagi saja harga kamera dengan 24 bulan. itu adalah biaya kamera. nah dari 40% tadi 2 tahun kemudihan pasti kamera butuh upgrade, agar hasil jepretan lebih bagus misalnya ….
Kurang lebih seperti itu hehehe
January 17th, 2008 at 15:45
Wah ini postingan yang bagus mas, berguna sekali bagi pebisnis pemula dan “manula” he..he..sebagi prinsip dasar pengelolaan keuangan.
btw, pertanyaanya yang diblog kemarin sudah tak jawab lho di : http://taslaptopkeren.blogspot.com/
makasih mas
January 18th, 2008 at 20:02
sip…..sip….perlu di actionkan aja.
memang bener kok kita saat berpikir terbalik, kapan lagi kalo tidak sekarang ayo coba…………..yuk….yuk
January 19th, 2008 at 17:42
1. Koh Ayun gak bayar pajak?

2. Nama Toko Danara perlu disesuaikan, boss. Dana + ra (=ora/tidak)
3. Kalo pendapatannya gak periodik (tiap hari / minggu / bulan / dsb). Bagaimana?
January 20th, 2008 at 18:27
#11
1. Coba nanti saya tanya ya :d
2. hehehe ga terpikir sebelumnya, btw kalo berpikir terbalik bisa jadi punya toko ga pakai dana lho, alias ga pake modal, hehehe
3. Mungkin bisa jadi profitnya harus diperhitungkan untuk dimakan sampai ada transaksi berikutnya, maka sering2lah bertransaksi dan melaukan penjualan hehehe
February 13th, 2008 at 23:44
teori yang patut dicoba ! sebenernya sama aja dg sistem rekap bulanan tapi ini bisa membuat kita lebih disiplin dalam menggunakan uang .
March 5th, 2008 at 16:10
good system and harus diterapkan, tapi ada yg mo ditanyain nih,
Perusahaan dimana q kerja kan perusahaan jasa expedisi. Dimana transaksi / pemasukan gak tiap hari ada sedangkan biaya yg harus dikeluarkan untuk operational perusahaan kan tiap hari, gimana ya cara yg plg jitu untuk ngitung profitnya, apa mesti dikalkulasi per 1 bulan ya ?. Give me advice dong.
Thannk you
March 15th, 2008 at 23:32
Minta contoh Akuntansi Sederhana Pak
April 2nd, 2008 at 16:29
Pengamatan/pengalaman pak Dan sangat menarik & inspiring, tapi judulnya terlalu berat. Saat saya klik dari google search – saya berharap byk yg bisa sy serap. Ternyata ini cerita tentang ‘Mengelola Untung’/'Profit Management’ scr disiplin saja. Kalau pun ada catatan tertulis Keuntungan tiap hari, belum bisa menghasilkan Neraca & Rugi Laba – produk akhir sebuah proses akuntansi. Tapi…salut dg tulisan pak Dan, smoga yg lain terinspirasi menyajikan SAS (sistem akuntansi sederhana) yg lbh komplet. Saya juga sedang garap SAS utk bisnis keluarga, dengan target lulusan SMP bisa menjalankan SAS… Salam.
April 2nd, 2008 at 16:53
#16 Terimakasih M’ Nia, sistem akuntansi ini memang tidak menghasilkan laporan laba rugi, Ko Ayun memasukkan semua uangnya ke bank dan menggunakan giro dalam melakukan pembayaran. Dia hanya bilang bahwa biarkan bank yang menuliskan laporan keuangannya dan dia hanya perlu disiplin dan telaten (saya sendiri belum mampu melakukan hal ini sampai saat ini).
Jika M’ Nia selesai membuat SAS silahkan infokan ke saya agar terdapat link kesana (atau saya akan upload ke blog ini juga), sehingga saya dan teman2 lain yang ‘terpaksa’
membaca tulisan ini juga bisa belajar dari apa yang telah M’Nia buat.
Ditunggu ya…
May 12th, 2008 at 4:43
Mas Danton, mau nanya, yang dilakukan Ko Ayun itu, dengan menyetor rutin ke Bank, dan melakukan pembayaran dgn Giro..
Apakah buka rekening Giro di bank sama dengan rekening tabungan biasa?
Apakah setiap pembayaran dilakukan dgn Giro?Bagaimana klo supplier Ko Ayun hanya menerima cash?
terimakasih
May 14th, 2008 at 8:13
Memang betul kunci dari SAS itu ya mengetahui jumlah profit dan kedisiplinan. Dan kayaknya masalah kedisiplinan itu yang perlu dicermati. Terus terang, saya pernah mencoba sistem ini tapi karena nggak disiplin hasilnya juga nggak optimal. Insya Allah, saya akan mencobanya lagi dengan lebih disiplin.
Btw, thanks Pak Dan. Your articles inspiring me!
Buat M’Nia, saya tunggu karya SAS-nya…
May 25th, 2008 at 13:15
Subhanallah…mantaps, artikelnya sangat “menyentil”. bener2 ngerubah mindset dagangku, tks ya bro, sukses selalu
June 22nd, 2008 at 23:39
saya memiliki usaha counter hp kecil2an (mulai awal 2007). awalnya saya ingin pakai pembukuan yg bener, tapi br 1 bln sudah pusing sendiri. lalu saya ganti pakai sistem yg ternyata mirip Ko Ayun, tp labanya cuma saya pisahkan aja. setelah 1 bln baru saya bagi. 50% ditambahkan ke modal, 40% saya ambil (anggap saja gaji saya), 10% buat derma/sumbangan dll. kalau dana sumbangan tdk terpakai atau sisa, maka disimpan secara terpisah. kalau kebetulan ada keperluan pribadi yang membutuhkan dana lebih, tinggal dibalik aja yg tadinya 50:40:10 jadi 40:50:10. gimana kalau tetep gak cukup? ya tinggal pinjem aja di bagian yang seharusnya ditambahkan ke modal itu. trus bulan berikutnya “potong gaji” sampai jumlah yg dipinjam itu.
yang jelas sistem begini untuk sementara belum memberikan “efek rambut rontok”. simple aja bro
November 3rd, 2008 at 19:08
1.sepertinya sudah banyak orang yang melakukan sistem akuntansi yang menurutnya benar.dan sejauh yang mereka jalani,”aman-aman” aj dan kebanyakan sukses.
2.apa yang harus dilakukan ko ayun,seandainya tokonya itu menjadi sebuah perusahaan bsr,apakah dia akan menerapkan sistem itu???
3.menurut saya,alangkah baiknya kalau kita menerapkan sistem akuntansi yang lebih baik.pada akhirnya,semua kmbli pada pilihan kita masing2.
November 11th, 2008 at 19:50
Wah, saya juga dulu punya usaha dagang sparepart (hardware) komputer dan sebuah outlet seluler. Karena saya sebelumnya tidak pernah belajar yang namanya Akuntansi, alias 0 besar, maka secara tidak sengaja modal lama-lama habis terkikis. (Untung ndak sampe ngutang sama rentenir, hehehe). Beberapa tahun kemudian saat saya siap memulai bisnis baru, saya rasa benar-benar perlu mempelajari akuntansi secara sungguh-sungguh. Iseng-iseng saya coba belajar buku Pengantar Akuntansi (katanya ini sih bukunya mahasiswa Akuntansi semester 1). Pengarangnya Warren, Reef, Fess. Sudah terjemahan Indonesia. Menurut saya enak juga dibaca. Meskipun dulunya saya sekolah di teknik sipil, tapi buku ini cukup mudah dipelajari oleh Dummies seperti saya.
December 11th, 2008 at 10:37
GOOD ARTICLE
Mohon saran untuk margin keuntungan yang bisa kita ambil dari jualan brg2 kelontong dikaitkan dgn by BBM/Angkutan Umum.
Kira2 berapa % dari harga pokok keuntungan yg bisa diambil, shg haga jual tdk terlalu tinggi dan juga tdk terlalu rendah?
Terima kasih
Yono_smg@yahoo.com
February 10th, 2009 at 20:50
benar, saya pikir artikel ini dari sisi inspirasi bisa juga diadopsi sebagai “nafas” nya dagang. tapi perlu diingat, akuntansi juga luas lingkupnya tapi tetap masih ada batasan2 ko. kalo blh berpendapat sistem ko ayun ini adalah sistem dagang bukan sistem akuntansi. Karena jelas akuntansi bukan hanya sekedar berdagang. Saya lebih melihat akuntansi itu sebagai siklus, namanya siklus pasti ada perputaran, dan dalam perputaran itulah variabel2 akuntansi yang detail bermain. Tapi akuntansi pun sebenarnya bisa disederhanakan dalam bentuk kalimat lain yaitu alur yang sistematis dari memilah transaksi, mencatat, memindahkan saldo, dan melaporkan, sampai pada tahap analisa dan pengambilan keputusan. (maaf kalo krg lengkap). Nah dari artikel tadi, bisa disimpulkan dong kalo dagang ga cuma modal hoki walau sebagaian masyarakat percaya itu, tapi juga ada pehitungannya. Hoki???… kyknya blm ada yah orang yang beruntung permanen, pasti ada cobaan dalam hidup, nah kalo bisa survive saat ada cobaan, dan keluar dari masalah dengan usaha positif dan terus berdoa itu baru sukses, termasuk dalam dunia akuntansi uppss dagang maksudnya. Thanks
February 20th, 2009 at 14:07
perLu d cOba jga yaCh……
March 3rd, 2009 at 10:07
wow.. good idea from ko ayun.
tapi kalo kita bangsa pribumi dan bersosial, dalam transaksi kan terkadang ada yang hutang, nah gimana kalo tetangga kita ada yang ngutang? itu dimasukan untungnya ato modalnya saja? masak ngutang barang dikit aja mo dilarang?
hehehe
ya sedikit permasalahan sih, tp kalo sistem ini bagaimana cara ngatasanya?
thanks cuy..
May 16th, 2009 at 19:45
wow….hal kecil gt kug a kpikiran dari dulu z????tengs z…thats very inspirating!!!hheheheh
May 30th, 2009 at 8:06
Teori yg bagus, teori ini pernah saya praktekan pada toko dan koperasi, kemudian saya gabungkan dgn teori akuntansi modern sehingga sangat gampang mengetahui keuntungan dgn mudah dan lengkap setiap hari.
Untuk mengetahui penjualan begini caranya : kas akhir + biaya/pembelian/pengeluaran lain – kas awal = penjualan tunai hari itu. Kita gak perlu nyatat penjualan satu persatu, kan capek apalagi banyak, cukup dengan cara itu dan sediakan buku kas untuk mencatat penerimaan & pengeluaran selain penjualan.
Nah itu salah satu contoh, belum lagi menghitung unsur2 yang lain dengan metode yang mirip seperti itu.
Nah itu saja comment saya, kunjungi situs saya klik di sini.